Pengolahan Minyak Goreng Bekas (Jelantah) menjadi Bahan Bakar Setara Solar (Biodiesel) dengan Proses Transesterifikasi

Oberlin Sidjabat

Sari


Minyak goreng bekas atau yang sehari-hari disebut jelantah, merupakan salah satu sumber polusi apabila dibuang sembarangan. Pengertian istilah jelantah adalah sisa-sisa dari minyak goreng setelah digunakan beberapa kali. Pada umumnya minyak goreng bekas mengandung senyawa-senyawa antara lain: polimer, aldehida, asam lemak, senyawa aromatik, dan lakton. Untuk menghindari bahaya yang dapat ditimbulkan maka perlu dicari jalan keluar untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut. Salah satu cara adalah dengan mengolahnya melalui proses kimia, dalam hal ini transesterifikasi, yang sangat sederhana (Kac, 2003). Di sisi lain, bahan bakar minyak banyak menghasilkan gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga perlu dicari bahan bakar yang akrab lingkungan. Salah satu bahan bakar yang akrab lingkungan adalah biodiesel. Biodiesel adalah suatu nama generik untuk bahan bakar setara bahan bakar minyak solar yang diperoleh dari sumber yang dapat diperbaharui (renewable sources), minyak nabati dan lemak hewan, dengan proses esterifikasi yaitu dengan mereaksikan minyak dan alkohol dengan bantuan suatu katalis. Biodiesel mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan bahan bakar minyak diesel (solar) yang diperoleh dari minyak bumi, antara lain: mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik sehingga memperpanjang umur mesin; merupakan bahan bakar yang aman karena mudah ditangani dan tidak beracun; mempunyai gas buang yang relatif bersih


Kata Kunci


Minyak Goreng Bekas, Jelanta, bahan bakar, solar

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anonim, 1997, Laporan Lengkap: Penelitian Uji Jalan Penggunaan Solar-Sawit pada Motor Die- sel Kendaraan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMIGAS"

Anonim, 2002, McDonald's Brazil, Social Respon- sibility Report, Rio de Janeiro, p.7

Anonim, http://www.veggievan.org/biodiesel

Boyd, Margaret., University Communications, http://www.uoguelph.ca/ atguelph/96-05-01/ oil.html

Freedman, B.; Butterfield, R.O., and Pryde, E.H., 1986, J. Am. Oil. Chem. Soc., 63, 1375

Freedman, B.; Pryde, E.H., and Mounts, T.L.,1984, J. Am. Oil. Chem. Soc., 61, 1638

Kac, A., The Two-stage Adaptation of Mike Pelly's journeytoforever.org/biodiesel aleks.html 6. Biodiesel Recipe, http://journeytoforever.org/biodiesel aleks.html

Keang, Loh Soh; May, Choo Yuen; Foon, Cheng Sit dan Ngan, Ma Ah, 2003, MPOB TT No. 192, June

Nye, M.J., et.al., 1983, J. Am. Oil. Chem. Soc., 60, 1598

Schuchardt, U., Sercheli, R., and Vargas, R. M., 1998, J. Braz. Chem. Soc., 2. 199

Serena, 1996, Pengaruh Suhu dan Lama Penggorengan terhadap Kerusakan Minyak Goreng Komersial, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, hal 4-8

Sidjabat, O., 1995, Studi Proses Transesterifikasi Minyak Kelapa Sawit menjadi Bahan Bakar Mo- tor Setara Solar, Proceedings Diskusi Ilmiah VIII PPPTMGB "LEMIGAS", hal. 227-233

Sidjabat, O., 2002, Hasil Interview dari Beberapa Restoran Cepat Saji (Waralaba).




DOI: https://doi.org/10.29017/LPMGB.38.2.751