Korelasi Cekungan Ketungau dan Melawi berdasarkan Analisis Data Gayaberat

Eddy Supriyana, Tatang Padmawidjaja

Sari


Cekungan Ketungau dan cekungan Melawi mempunyai karakter batuannya yang berbeda, sehingga dalam kajian ini mencoba untuk dianalisis berdasarkan nilai-nilai rapat massa batuannya. Pola anomali gayaberat daerah Sintang membentuk cekungan dan tinggian anomali yang berarah barat–timur, tinggian anomali tersebut berhubungan dengan pengangkatan Komplek Semitau sebagai batas antara Cekungan Ketungau dan Melawi. Berdasarkan hasil analisa rapat massa diharapkan dapat memberikan informasi terkait keberadaan kedua cekungan tersebut. Nilai anomali gayaberat yang tinggi membentuk kelurusan dan berarah barat timur diduga sebagai Penggangkatan Semitau dan Komplek Selangkai. Nilai anomali gayaberat tersebut juga memisahkan dua buah cekungan yaitu Cekungan Ketungau di bagian utara dan Cekungan Melawi dibagian selatan. Komplek Semintau dan Batuan Alas Samudera diterobos oleh batuan granit (Toms). Batuan granit tersebut tersingkap dibagian utara dan selatan di Komplek Semitau yang tercermin dari sebaran anomali gayaberat dibawah 15 mGal, sedangkan kelompok batuan dari Komplek Semitau yang memanjang barat-timur dicirikan oleh nilai anomali tinggi antara 35mGal sampai 55 mGal dan nilai anomali gayaberat regional mencapai 40 mGal. Model geologi dari lintasan anomali gayaberat menunjukkan adanya cekungan sedimen dengan nilai anomali gayaberat -5 mGal yang diterobos oleh batuan dari Komplek Semitau dengan nilai anomali 55 mGal, hal ini ditunjukkan juga oleh bentuk sesar dan kelurusan didaerah cekungan Melawai dan Ketungau.
Berdasarkan analisa gayaberat dengan nilai-nilai rapat massanya 2.50 gr/cm3 sampai dengan 2.75 gr/cm3 dapat menunjukkan bahwa cekungan Melawi dan Ketungau dipisahkan oleh batuan dari Komplek Semitau sebagai batuan alas dari kedua cekungan tersebut.


Kata Kunci


Anomali gayaberat, batas cekungan, struktur geologi, Cekungan Ketunggau, Cekungan Melawi dan Komplek Semitau

Referensi


Hartono, U. dan Suyono, 2006, Identification of Adakite from The Sintang Intrusives In West Kalimantan, JGSM, Vol 16, No 3, Hal 173 - 178

Iwan, G.S., 2010. Struktur Geologi Dinamika dan Evolusi Cekungan Ketungau Sintang, Kalimantan Barat. Pusat Survei Geologi Bandung, Laporan tidak terbit

Setiadi, I., 2017, Basement Configuration and Delineation of Banyumas Sub-Basin Based On Gravity Data Analysis, JGSM Vol. 18, No 2., hal 67-76

Harahap, B.H., Heryanto, R., Sanyoto, P, Williams, P.R. dan Pieters, P.E., 1993, Peta Geologi Lembar Sintang Skala 1:250.00, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

L. D. Santy, 2010. Stratigrafi dan Sedimentologi Dinamika dan Evolusi Cekungan Ketungau, Sintang Kalimantan Barat, Laporan tidak terbit

L. D. Santy and H. Panggabean, 2013, The Potent ial of Ketungau and Silat Shales in Ketungau and Melawi Basins, West Kalimantan: For Oil Shale and Shale Gas Exploration,Indonesian, Journal of Geology, Vol. 8 No. 1

L. D. Santy, 2014, Diagenesis Batupasir Eosen di Cekungan Ketungau dan Melawi, Kalimantan Barat, JGSM Vol .15, No 3, Hal 117 – 131.

Panjaitan, S., 2015, Dinamika dan evolusi Cekungan Ketungau, Kalimantan Barat berdasarkan metoda Gayaberat, Vol 16, No 2, hal 103 – 114

William, P.R., Supriatna, S, S., Trail, DS., and Heryanto, R., 1984 Tertiary Basin of West Kalimantan, Associated Igneous Activity and Structural Setting. Indonesian Petroleum Association 13th Annual Convention Proceedings, p.151-160.