APLIKASI METODE CWT (CONTINOUS WAVELET TRANSFORM) UNTUK MENGETAHUI SEBARAN BATUBARA PADA PENGEMBANGAN UNDERGROUND COAL GASIFICATION, SUMATRA SELATAN

Sulistiyono ., Praditiyo Riyadi

Sari


Energi unconvensional merupakan kunci pembaharuan target eksplorasi dan eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan energi dunia. Gasifikasi batubara bawah permukaan ata underground coal gasification merupakan salah satu alternatif solusi terhadap persoalan tersebut. Gasifikasi batubara akan menghasilkan syngas yang dapat dikonversi menjadi minyak dan/atau gas alam sintesis. Teknologi ini pada prinsipnya melakukan gasifikasi lapisan batubara secara insitu pada kedalaman lebih dari 150 meter. Hal ini dilakukan karena keberadaan batubara di kedalaman lebih dari 150 secara keekonomian tidak menguntungkan untuk ditambang secara konvensional. Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang berpotensial akan kandungan batubara, adapun formasi yang mengandung batubara pada cekungan ini adalah Formasi Muara Enim. Formasi ini secara stratigrafi diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Air Benakat, berumur Miosen Atas. Pada umumnya keberadaan batubara pada suatu formasi dikendalikan oleh overburden dan geothermal gradient (2.890 F / 100 feet). Ketebalan lapisan batubara di formasi ini cukup bervariasi tergantung posisi pengendapan dan sejarah tektonik cekungan. Guna mengetahui pola penyebaran dan ketebalan lapisan batubara tersebut perlu digunakan metode yang dalam hal ini adalah Spectral Decomposition. Spectral Decomposition adalah metode atribut seismik yang sering digunakan untuk menganalisis seismik dengan frekuensi domain. Informasi mengenai frekuensi seismik digunakan untuk mendapatkan sebaran litologi di daerah penelitian. Sebaran lapisan batubara yang cukup tipis pada area penelitian (5-10 m) akan terdeteksi pada frekuensi tertentu dalam data seismik. Ada 12 data sumur yang mencapai Seam-F Coal (150 m) dan Seam-D Coal (250 m) yang digunakan sebagai validator untuk sebaran atribut seismik. Pada analisis spektrum amplitudo seismik didapatkan 7,47 meter untuk resolusi vertikal data seismik pada frekuensi 60 Hz dan mencerminkan tampilan lapisan batubara dengan sangat jelas. Metode dekomposisi spektrum dapat mengambarkan mengenai distribusi lapisan batubara dan pengembangan energi unconventional dapat berkembang di daerah ini.

Kata Kunci


Batubara, Energi Unconventional, Cekungan Sumatera Selatan, Dekomposisi Spektral, Frekuensi.

Referensi


APEC Secretariat, 2013, APEC Energy Demand and Outlook 5th Edition, Asia Pacific Energy Research Centre, Institute of Energy Economics, Japan.

Castagna, John, and S. S., 2006, ‘Comparison of spectral decomposition methods’. First Break, p. 75-79.

Chopra, S. and K.J. Marfurt., 2016, ‘Spectral decomposition and spectral balancing of seismic data. The Leading Edge’. 35(2): p. 176-179.

Lemigas, 2005, Evaluasi prospek dan Lead serta Play Konsep Cekungan Palembang Selatan. Laporan Proyek Penemuan Cadangan Migas.

Sinha, S.K., et al., 2003, ‘Time-frequency attribute of seismic data using continuous wavelet transform. in 2003 SEG Annual Meeting’. Society of Exploration Geophysicists.

Sitompul N.,dkk, 1992, Effects of Sea Level Drops During Late Early Miocene to The Reservoirs in South Palembang Sub Basin, South Sumatra, Indonesia, Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, 21st, 309-324.

Sugiyono, A., Permana, A.D., Boedoyo, M.S dan Adiarso, 2013, ‘Outlook energi Indonesia 2013, Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi’, 978-979-95202-9-6.